free glitter text and family website at FamilyLobby.com

Selasa, 16 Julai 2013

36 TAHUN MELERTASIKAN BAHASA SUKUAN SABAH: SATU PERKONGSIAN PENGALAMAN

Aminah Awang Basar
Timbalan Pengarah (Pembinaan Bahasa dan Sastera)
DBP Cawangan Sabah, Kota Kinabalu


Berdasarkan laporan kajian Summer Institute of Linguistic (SIL) pada tahun 1982, terdapat tidak kurang daripada 55 bahasa ditemui di Sabah. Bahasa-bahasa ini dikelaskan sebagai bahasa Austronesia yang terbahagi kepada tiga stok utama (superstock) iaitu stok bahasa Butung, stok bahasa Jawa, dan stok Austronesia barat laut. Kekayaan bahasa ini menjadikan Sabah salah satu negeri unik dari segi kepelbagaian bahasa dan budaya di Malaysia, dan di Kepulauan Borneo khususnya. Kewujudan cawangan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) di Sabah pada 22 Jun 1977, tepat pada masanya dan menjadi badan terawal di Sabah yang melaksanakan tugas pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastera selepas penubuhan Malaysia. Sejak itu, DBP telah mengorak langkahnya tapak demi tapak bagi memastikan bahasa dan sastera kebangsaan dimartabatkan, di samping meneruskan usaha pelestarian bahasa dan sastera sukuan di Sabah. Makalah ini mengandungi catatan pengalaman DBP selama 36 tahun (1977-2013) keberadaannya di Sabah, khususnya yang berkaitan dengan fungsi pembinaan dan penyelidikan, pengembangan dan juga penerbitan.

Ahad, 14 Julai 2013

KELESTARIAN BAHASA IBUNDA (DIALEK MELAYU SARAWAK) DALAM KEPELBAGAIAN ETNIK DI SARAWAK


Wan Robiah Meor Osman, Rosnah Mustafa & Salina Pit
Pensyarah
Pusat Pengajian Bahasa, Universiti Malaysia Sarawak

Kepulauan Borneo khususnya Sarawak mempunyai masyarakat yang rencam dengan etnik, fahaman, budaya serta adat resam yang diwarisi turun temurun daripada generasi terdahulu. Masyarakat ini hidup secara harmoni dan bertoleransi dalam kepelbagaian yang wujud melatari ruang lingkup kehidupan seharian. Antara kaum yang terdapat di Sarawak ialah Iban, Melayu Sarawak, Melanau, Bidayuh, Cina, Kenyah, Kayan dan lain-lain. Masyarakat Melayu Sarawak merupakan kumpulan ketiga terbesar selepas masyarakat Iban dan Cina. Masyarakat ini bertutur dalam dialek Melayu Sarawak yang mempunyai variasi mengikut daerah atau kawasan geografi masing-masing. Menariknya, variasi dialek Melayu Sarawak kebanyakannya ditandai dengan perbezaan sebutan dan kosa kata. Walaupun demikian, kajian ini menfokus kepada dialek Melayu Sarawak di kawasan Kuching dan Samarahan.

Dalam era modenisasi yang dipayungi oleh kepelbagaian etnik dilihat terdapat kosa kata dialek Melayu Sarawak yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Oleh hal demikian, makalah ini meneliti kelestarian bahasa ibunda masyarakat Melayu Sarawak dalam mengharungi arus kepelbagaian etnik serta globalisasi dengan memanfaatkan soal selidik yang dirangka kepada 100 orang remaja sebagai responden. Kajian ini bermatlamat untuk melihat sejauh mana pemahaman dan pengetahuan responden terhadap kosa kata tradisi dalam interaksi sosial seharian. Melalui dapatan diharap dapat mengetengahkan kosa kata tradisi ini di samping meningkatkan kesedaran dan kepentingan dalam kalangan generasi muda khususnya, untuk memelihara dan melestarikan khazanah bahasa nenek moyang mereka agar tidak terus ditelan arus kemodenan.   

Kata kunci:

Kelestarian, Dialek Melayu Sarawak, Kepelbagaian Etnik, Modenisasi

Jumaat, 12 Julai 2013

PADANAN IDIOM DAN UNGKAPAN IDIOMATIS BAHASA INGGRIS DALAM BAHASA MELAYU BRUNEI: SEBUAH KAJIAN KOMPARATIF


Fauzi Syamsuar, S,Pd., M.Hum. dan Aditya Rizkiana
Universitas Ibn Khaldun Bogor, Indonesia

Sebuah bahasa biasanya memiliki satuan linguistis tertentu yang disebut idiom atau ungkapan idiomatis. Bahasa Inggris (BI) adalah sebuah bahasa utama di dunia dan dipelajari oleh banyak kalangan terpelajar yang bahasa pertamanya bukan BI, termasuk kalangan terpelajar yang bahasa pertamanya bahasa Melayu; dan BI pun ternyata memiliki idiom atau ungkapan idiomatis. Makalah ini adalah laporan penyelidikan tentang bagaimana idiom dan ungkapan idiomatis tertentu (khusus) dalam BI, yakni yang mengandungi satuan linguistis yang berkait dengan referen anggota tubuh manusia, diterjemahkan secara lisan oleh penutur jati/asli bahasa Melayu—yakni bahasa Melayu Brunei (BMB)—ke dalam bahasa pertamanya. Penutur jati BMB yang dilibatkan dalam penyelidikan ini berasal dari kalangan terpelajar sehingga mereka diasumsikan memiliki kemampuan dalam memahami idiom dan ungkapan idiomatis BI. Data diperoleh dari tuturan/bahasa lisan penutur jati BMB. Tuturan itu merupakan padanan atau terjemahan bagi idiom atau ungkapan idiomatis tertentu dalam BI tersebut di atas. Dalam pengelolaan data, padanan bagi idiom dan ungkapan idiomatis BI dalam BMB dikelompokkan ke dalam dua kategori: 1) idiom dan ungkapan idiomatis BI yang terterjemahkan ke dalam idiom dan ungkapan idiomatis BMB yang juga mengandungi satuan linguistis yang berkait dengan referen anggota tubuh manusia dan 2) idiom dan ungkapan idiomatis BI yang terterjemahkan ke dalam idiom dan ungkapan idiomatis BMB yang tidak mengandungi satuan linguistis yang berkait dengan referen anggota tubuh manusia. Tipe-tipe idiom dan ungkapan idiomatis BMB (semisal peribahasa, pepatah, perumpamaan, ibarat, dan pemeo) sebagai padanan idiom dan ungkapan idiomatis BI yang mengandungi satuan linguistis yang bekait dengar referen anggota tubuh manusia adalah temuan penting dalam penyelidikan ini.

Kata Kunci : idiom, ungkapan idiomatis, pemadanan ungkapan, dan perjemahan ungkapan

KREATIVITAS PENGGUNAAN LAGU-LAGU GAMBANG KROMONG DALAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA (UPAYA MENSOSIALISASIKAN BAHASA BETAWI SEBAGAI BUDAYA LOKAL DI JAKARTA)


Dr. Tuti Tarwiyah Adi, M.Si 1

Jakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia merupakan kota dengan berbagai etnik dan budaya.  Salah satunya adalah Betawi yang dikenal sebagai etnik local Jakarta,  Budaya Betawi memiliki kekhasan tersendiri karena terbangun dari berbagai macam budaya baik lokal, nusantara maupun mancanegara.  Salah satu produk budaya Betawi adalah musik Gambang Kromong.  Musik ini dipengaruhi music Cina dengan penggunaan alat music gesek Kongahyan, Tehyan, dan Sukong Tangganada yang digunakan umumnya menggunakan tangganda pentatonic dan syair lagunya menggunakan pantun atau rima.  Ciri khas lainnya adalah menggunakan bahasa Betawi atau setidaknya menggunakan dialeg bahasa Betawi saat berkomunikasi atau improve berdialog untuk memberi penekanan lagu sehingga membuat lagu terkesan jenaka dan menyegarkan.  Sayangnya, lagu-lagu Gambang Kromong yang indah dan lucu hanya diketahui dan diminati oleh kelompok terbatas juga yaitu kelompok praktisi beserta keluarganya.  Dalam pengamatan penulis selama ini sebagai instrukrur seni budaya bagi guru-guru yang akan mendapatkan sertifikat professional (bersertifikasi professional) hampir tidak ada guru seni budaya yang memperkenalkan lagu Gambang Kromong selain hanya sebagian kecil memperkenalkan lagu daerah.  Padahal, lagu-lagu Gambang Kromong terutama yang telah masuk kategori lagu Gambang Kromong modern amat sarat menggunakan bahasa daerah Betawi, sedangkan lagu Gambang Kromong yang masuk kategori lagu lama/lagu daerah (lagu sayur) amat sarat dengan muatan pantun.  Jika syair lagu Gambang Kromong yang umumnya menggunakan bahasa daerah Betawi diajarkan pada siswa, dikaji maknanya lalu dinyanyikan, tentu akan menarik dan menambah wawasan siswa tentang kekayaan budaya bangsanya.  Demikian juga jika lagu-lagu Gambang Kromong yang berasal dari lagu daerah yang bermuatan pantun/rima diperkenalkan dan dikembangkan sesuai keinginan dan kebutuhan, tentu akan membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan berrmakna.  Sungguh bijak dan elok guru yang mau dan dapat memanfaatkan lagu Gambang Kromong baik sebagai media pembelajaran maupun sebagai tujuan pembelajaran itu sendiri.  Sungguh cerdas guru yang mau dan dapat memanfaatkan lagu Gambang Kromong yang syairnya telah dikembangkan walau hanya sekedar saat membuka pelajaran, intermezzo (ice breaking) atau saat menutup pelajaran.  Apalagi jika mengajak anak berkreasi bekerjasama membuat pantun lagunya sesuai dengan tema yang ditetapkan atau tujuan pembelajaran yang diinginkan.  Jika ini terjadi, maka di samping tujuan pembelajaran dapat tercapai, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, kesenian pun dapat dikembangkan dan dilestarikan.  Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
. 
Keywords: Kreativitas, Gambang Kromong, Budaya Betawi,  Seni Budaya, Pantun, Rima.
[1] Dr. Tuti Tarwiyah Adi, M.Si. Lecturer/The head of Ensemble academic lector at Music Department, Language and Arts Faculty, Early Childhood Education Lecturer at Faculty of Education, the Lecturer of Early Childhood Post Graduate Program at the State University of Jakarta. The Writer of: 1.Analisis SWOT, Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah,  (SWOT Analysis, Education Policy on Regional Autonomy Era), 2. Cerdas Ganda Anak Usia Dini melalui Nyanyian, 3. Maen Yook Permainan Anak Betawi yang Menggunakan Nyanyian. The Head of Culture Conservation Division at Betawi Cultural Institution (Lembaga Kebudayaan Betawi/LKB 2009-2012), the Head of Creative Team at Betawi Cultural Institution (Lembaga Kebudayaan Betawi/LKB 2012-2015), the Head of Sports and Arts Forum Silaturahmi Pendidik Betawi/FSPB)  

BAHASA VAIE - SATU PENGENALAN


Mohd SharifudinYusop, Phd.
(Pensyarah Kanan, Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi, UPM)
dan
Shantrol Abdullah, M.A.
(Pegawai Istilah, Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sarawak)


Sebagai sebuah negeri yang terbesar di Malaysia, Sarawak didiami oleh sekurang-kurangnya 47 suku kaum yang diklasifikasikan menerusi ciri bahasa mereka. Dominasi bahasa-bahasa utama seperti Melayu, Inggeris, Iban, Melayu Sarawak dan Melanau, menyebabkan banyak bahasa yang kecil bilangan penuturnya seperti Seru, Tanjung, Lahanan, Ukit, dan Penan, berhadapan dengan  masalah keterancaman dan kepupusan. Kehilangan bahasa-bahasa ini akan menyebabkan kemusnahan diversiti masyarakat yang selama ini mewarnai Bumi Kenyalang ini. Justeru masih banyak data bahasa-bahasa itu yang belum dikaji dan didokumentasi, kajian seperti ini adalah difikirkan amat kritikal untuk dilaksanakan. Salah satu bahasa yang hampir hilang ialah bahasa Vaie. Selama ini, bahasa Vaie dianggap sebagai subdialek Melanau yang dituturkan di Bintulu. Namun demikian, daripada kajian awal yang dilakukan, didapati bahawa bahasa ini sebenarnya boleh berdiri sendiri kerana terdapat sekurang-kurangnya 70% perbezaan berbanding bahasa Melanau. Bersandarkan pendekatan etnolinguistik, kajian ini dilakukan dengan mengumpul senarai kosa kata bahasa itu dan menganalisis sistem fonologinya. Ukuran leksikostatistik dan dialektometri diaplikasi mengikut keperluan.  Data dianalisis secara kualitatif. Responden dan informan terdiri daripada masyarakat Vaie yang tinggal dibeberapa petempatan  di Bintulu. Setelah  analisis kosa kata dibuat, didapati bahawa terdapat perbezaan sistem fonologi dan ciri semantik yang signifikan dalam bahasa Vaie berbanding bahasa Melanau. Penemuan konsonan /v/ dan /q/ dalam kosa kata bahasa Vaie menunjukkan bahasa ini tidak tergolong dalam rumpun bahasa Melayo-Polinesia sebagaimana kelaziman bahasa-bahasa sukuan Sarawak yang lain. Kajian ini membuktikan kewujudan satu bahasa lain di Sarawak dan justeru, terdapat satu etnik lain yang bernama suku Vaie yang selama ini tidak terdapat dalam senarai suku kaum di Sarawak. Hal ini akan mencetuskan persoalan linguistik historis yang lebih menarik dan mencabar pengkaji-pengkaji antropologi linguistik untuk melakukan kajian yang lebih mendalam.

Kata Kunci: keterancaman, bahasa Vaie, etnolinguistik, leksikostatistik, dialektometri

PENAMAAN DAN PEMAKNAAN GERAK TARI TRADISI JAWA SALAH SATU BUDAYA INDONESIA


Hartono
Universitas Negeri Semarang


Kesenian yang ada di Indonesia sangat banyak jenis bentuk dan ragamnya.  Termasuk kesenian yang berada di Jawa.  Setiap jenis seni tradisi memiliki historis dan komunitas pendukung yang beragam. Beberapamacam bentuk kesenian yang ada adalah berupa: seni musik, seni drama, seni akrobatik, seni rupa, seni tari.  Seni-seni tersebut sebagai media ekspresi.  Seni Tari pada hakikatnya sama dengan seni-seni yang lain sebagai media ekspresi atau sarana komunikasi kepada orang lain.  Seni Tari media utamanya tubuh manusia.  Oleh karena itu, tari adalah ekspresi jiwa yang dituangkan lewat gerak melalui tubuh manusia yang mempunyai makna tertentu di dukung oleh musik pengiring, kostum, dan property yang dipertunjukkan pada tempat/ruang tertentu.  Dalam Tari  ada gerak maknawi, gerak murni, dan gerak stilisasi/distorsi.  Gerak maknawi adalah gerak yang mempunyai makna atau maksud tertentu. Gerak murni adalah gerak yang mengutamakan keindahan gerak.  Gerak stilisasi atau distorsi, adalah gerak yang telah digarap atau diubah menjadi gerak yang indah baik gerak murni maupun gerak maknawi.  Bentuk struktur gerak Tari Jawa memiliki beberapa struktur, yang terdiri dari ragam gerak, unsur gerak, dan motif gerak.  Setiap ragam gerak, terdiri beberapa unsur gerak, Unsur gerak terdapat beberapa motif gerak.  Ciri lain Tari tradisi Jawa terdapat banyak nama-nama baik pada gerak murni maupun gerak maknawi.  Pada gerak murni, misal gerak ukel, ngithing, nyempurit, pacak jonggo, dan lain-lain.  Gerak maknawi misal gerak uplap-ulap, gerak trisik/mabur, menirukan orang membatik.  Tari tradisi Jawa tersusun dari beberapa gerak, yaitu gerak imitasi, gerak interpretasi, gerek murni, dan beberapa gerak penghubung. Setiap gerak tari mengandung unsur volume, garis, bentuk, dan tenaga, serta ruang.  Ruang yang dimaksud dalam hal ini adalah ruang untuk menari dan ruang yang dihasilkan oleh penari.  Beberapa ruang yang dihasilkan oleh penari adalah berupa garis, wolume, arah, level, dan fukus.  Tari tradisi Jawa pada awalnya digunakan sebagai upacara ritual dan sifatnya turun temurun sehingga menjadi tradisi.  Perkembanan selanjutnya Tari yang semula sebagai alat upacara sekarang digunakan sebagai hiburan.  Tari sebagai hiburan dikemas sesuai dengan kebutuhan.  Oleh karena itu, pengemasan Tari tradisi Jawa lebih memperhatikan waktu, gerak, dan tempat pertunjukan.  Hasil garapan tari secara garis besar dikelompokkan menjadi tari tradisional dan kreasi.  Tari tradisi di bagi menjadi tari tradisi kerakyatan dan tari klasik.  Tari kreasi, adalah tari yang digarap baik menggunakan gerak tari tradisi maupun gerak yang sama sekali baru.  Bentuk koregrafi, digolongkan menjadi tari tunggal, tari berpasangan, dan tari kelompok.  Tari Tradisi Jawa di tinjau baik dari garap tari maupun bentuk koreografi mempunyai berbagai nama dan makna yang sangat beragam.

Kata kunci: Gerak Tari, Makna,  Nama, Tradisi 

PENGUNGKAPAN BAHASA DALAM MUSIK IRINGAN TARI KLASIK JAWA


Drs. R. Indriyanto, M.Hum.

Tari klasik Jawa diiringi oleh music yang disebut dengan  music Karawitan Jawa atau  Gamelan.   Pengungkapan bahasa dalam music karawitan dapat dilihat pada bagian lagu dengan syair-syair untuk menggambarkan cerita tari dan memberikan suasana tari.  Lagu dinyanyikan dalam bentuk:  tembang,   sindenan, gerong,   pathetan, ada-ada, sendhon,  senggakan,  alok;  yang  semuanya  berisi  syair-syair dalam bentuk  vocal bersahutan,  parikan (pantun),dan  wangsalan (teka-teki).  Tembang adalah rangkaian bahasa yang menggunakan aturan tertentu yang pembacaannya dilagukan dengan tangga nada pentatonic gamelan Jawa. Tembang  berisi syair-syair  yang menceritakan sesuatu dan ketika dilagukan dapat menghadirkan suasana yang beragam. Dalam tari klasik Jawa, tembang melalui syair-syairnya digunakan untuk  menggambarkan cerita  tari,  dan menghadirkan suasana tari.  Sindenan adalah lagu yang dinyanyikan oleh seorang wanita (sinden)  mengiringi jalannya music karawitan.  Sindenan menggunakan  menggunakan syair-syair yang berbentuk tembang, parikan, dan  wangsalan. Gerongan adalah lagu yang berada dalam struktur gending dengan menggunakan media tembang. Pathetan  adalah lagu   yang berisi syair-syair yang menggambarkan sesauatu sebelum atau sesudahnya dengan suasana yang tenang. Dalam pertunjukan tari  klasik jawa sebelumnya dan sesudahnya diberi pathetan.   Ada-ada adalah lagu dengan syair-syair  untuk suasana tegang dan  gagah. Sendhon adalah lagu dengan syair-syair untuk menghadirkan suasana sedih di dalam tari klasik Jawa. Senggakan adalah lagu  yang sifatnya sebagai pemanis sebuah music karawitan Jawa. Alok adalah lagu dengan vocal bersaut-sautan untuk  menambah suasana ramai. 

Kata Kunci: lagu, tembang, sindhenan, gerong, pathetan, ada-ada, sendhon, senggakan, alok,  parikan, wangsalan